GROUP EXHIBITION

To the Soul

September 7, 2018 | by admin


Artis peserta pameran :

Ivan Bestari

Ludira Yudha

Dery Pratama

Dedi Shofianto

Apri Susanto
 

To the Soul

Tema dasar pameran “From the Hand to the Soul” menjadi salah satu topik perbincangan kami saat
pertama kali bertemu. Sebab bahasa-ibu saya adalah bahasa Minang dan bahasa Indonesia, susunan
kata dalam bahasa inggris tersebut hanya dapat saya tafsirkan secara subyektif, berupa; “dari
sebuah keterampilan/kekuatan/kebiasaan/keterlatihan “tangan” yang menuju-mencari-menggali-
menemukan-menciptakan karya seni yang memiliki “jiwa/ruh”.
Bersandar pada pandangan tersebut, saya kemudian menangkap beberapa “gambaran-maksud”
yang sedang/ingin diurai oleh Kelompok Jari dipameran ini, yaitu; Sebagai Sebuah Pernyataan,
bahwa; meskipun berkelompok, masing – masing mereka berani untuk memilih-material yang
“berbeda” sebagai “bahasa-visual” yang khas. Sekaligus secara eksplisit, juga menegaskan (atau,-
berusaha untuk) atau mempertontonkan kemampuan teknik yang telah mereka capai (berkaitan
langsung dengan cara/perlakuan/pengolahan material yang digunakan).
Selanjutnya, Sebagai Sebuah Pertanyaan. Gambaran-maksud sebagai sebuah pertanyaan sejatinya
diperuntukkan bagi diri mereka sendiri (Kelompok Jari). Pertanyaan yang dapat menjadi “pagar-diri”.
Yaitu; tentang bagaimana menjaga spirit, tekad atau kemauan, dan kesungguhan (nilai; jujur) untuk
menciptakan karya seni rupa (yang memiliki “ruh”)?. Setidaknya, bisa dilihat sebagai sebuah cermin
dari “proses-berkelanjutan” penciptaan karya seni oleh seniman. Selalu belajar, mempelajari dan
menikmati apa yang sedang dipelajarinya, dan sekaligus ber-siap untuk mempelajari hal berikutnya
dengan kesungguhan.
Terakhir, Sebagai Sebuah Peristiwa, bahwa; pameran ini adalah sebuah “petanda” bahwa masing –
masing seniman SEJENAK telah “menemukan-sesuatu” yang kemudian dianggap sebagai karya seni
rupa (fine art), ukurannya tentu terletak pada subyektifitas seniman. Saya percaya “sesuatu”
tersebut telah melewati fase pencarian, penggalian, eksplorasi, bahkan eksperimen – eksperimen di
“ruang-personal” penciptaan karya seni masing – masing seniman. Sehingga kemudian karya seni –
karya seni tersebut pantas untuk dihantarkan ke “ruang-publik”, menjadi “aktor-utama” dalam
peristiwa pameran yang bertajuk To the Soul ini.
Di-sisi pemikiran yang lain, gambaran-maksud realitasnya tidak se-kaku kalimat ungkapan di atas.
Sebab, saat berkunjung dan berdiskusi ke studio masing – masing seniman saya menemukan
suasana yang hangat, berbincang santai dan tak jarang canda tawa menjadi “koor” bersama kami.
Dibalik kehangatan itu, sebenarnya banyak menyeruak pertanyaan – pertanyaan, perdebatan dan
pernyataan kritis dari seniman. Ada dua hal yang saya dapatkan ketika melakukan pertemuan –
pertemuan tersebut (dengan teknik waktu yang random). Pertama; Sadar ataupun tidak disadari,
sebenarnya mereka mengetahui; untuk mewujudkan ide dan gagasan (mereka miliki) menjadi karya
seni rupa akan diiringi oleh konsekuensi – konsekuensi logis. Oleh karena itu bekerja lebih keras
menjadi salah satu solusi atas hal tersebut. Hal ini tampak dari kondisi studio masing – masing
mereka saat itu, terlihat beberapa karya seni – karya seni yang sudah finish, dan beberapa yang
masih dalam proses pengerjaan (kecuali Deri Pratama, disebabkan dia baru pindah rumah/studio).
Bagi saya ini adalah fakta yang tidak disampaikan secara verbal. Kedua; Jarang sekali terlontar
“keluhan”, kalaupun ada, – berkutat pada persoalan bagaimana memahami karakteristik material,
mencari sajian-visual yang terbaik, dan terkait aplikasi teknik dalam penciptaan karya seni. Menurut
hemat saya, kesadaran ini (yang bisa saja tidak disadari) yang membuat mereka tetap “bermain –
main dengan serius”, “naskah-besar” dari peristiwa pameran di RuangDalam Arthouse ini.

Mini Seksi #1
OTAK KANAN
Spread The Art...