Artist

Mini Seksi #1

December 13, 2018 | by admin


[vc_row][vc_column width=”1/2″][vc_column_text]

Exhibition Opened by : Morgan Oey

Artis peserta pameran :

Gusmen Heriadi

Suharmanto

Dias Prabu

Desy Gitary

Ridho Scoot

Herru Yoga

Syam Terrajana[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”1/2″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Mini Seksi #1; Perayaan Sukacita.

Sebuah Program; Meninjau Perspektif Semu

Dipenghujung tahun 2018 ini RuangDalam Art House menelurkan program baru yang bertajuk Mini Seksi.  Selanjutnya, Program Pameran seni rupa Mini Seksi khusus dihadirkan untuk memamerkan karya – karya seni rupa yang ber-ukuran kecil. Sehingga kemudian, pengertiannya diletakkan pada ; Mini Seksi adalah “cara” atau sebuah “perspektif” untuk melihat karya seni rupa yang berukuran kecil dengan “lanscape-nilai” yang “khas” sesuai dengan “keunikan” karya – karya tersebut, dan juga dengan gelaran pamerannya. Sehingga kedepannya (setelah event ini-Mini Seksi #1) akan ada mini Seksi #2, #3 dan selanjutnya.

Tujuh (7) orang seniman terlibat dalam perhelatan pameran ini, mereka adalah; Desy Gitary, Dias Prabu, Agung Santosa, Heru Yoga, Suharmanto, Ridho Scott, Syam Terrajana, dan Gusmen Heriadi. Secara seksama ke-7 seniman ini memamerkan karya – karya mereka yang notabene memiliki ukuran kecil.

Yang cukup menjadi perhatian (penulis khususnya) setelah periode Boom Seni Rupa Indonesia ke-3 di dekade 2000-an. Karya – karya ukuran kecil seperti tidak mendapatkan tempat yang semestinya. Umumnya pemberian predikat terhadap karya seni kontemporer terletak pada “kecenderungan visual tertentu” dan ukuran, yang harus besar atau gigantik. Memang harus diakui anggapan ini tidak akan menemukan predisposisi yang konkrit. Namun faktanya, sebagian besar seniman (maupun pelaku/apresian seni lainnya) beramai – ramai mempraktekkan kecenderungan tersebut. Sehingga kemudian karya yang berukuran kecil lebih ditempatkan sebagai “Gift”, kado saat pembukaan, atau malah sebagai bonus dari perilaku transaksional. Entahlah? sekonyong – konyong karya seni rupa dengan ukuran kecil menjelajahi realitasnya yang belum tuntas hingga saat ini.

Di titik inilah kemudian program Mini Seksi di-wajantahkan. Menjadi ruang tinjauan yang menisbikan analisa – analisa awalnya yang bisa saja terkesan sok-heroik, sok-kritis terhadap semu-nya “perspektif-nilai” karya seni rupa yang berukuran kecil. Semoga kelak pada perhelatannya yang kesekian kalinya, dia menemukan “kesimpulan”. Ataupun tidak, tidak jadi soal – bersama waktu – jelasnya.

Mini Seksi #1; Perhelatan Sukacita

Tidak sepenuhnya lepas dari realitas di atas. Pada perhelatan Mini Seksi #1 ini lebih ditekankan pada rasa kebersamaan atau saya analogikan sebagai perayaan sukacita antar seniman yang saling bertemu dalam sebuah ruang pameran. Rasa yang kemudian hendaknya mereka bagi kepada audiens, dimana spiritnya diletakkan pada “berkarya” tidak harus ribet, sukar dan menyulitkan. Kemudian, inilah waktunya berpameran dengan rasa happy, berbagi kebahagiaan dan menelisik rasa kebersamaan.

Ke-8 seniman ini sama – sama memiliki keinginan untuk menghapus pengertian bahwa yang “kecil” tersebut adalah sedikit, sempit, tidak luas, tidak lebar, tidak penting, tidak berharga dan lain sebagainya. Untuk persolan karya, mereka sibuk dengan polah dan kecenderungannya masing – masing; Desy dengan seribu pertanyaan atas dirinya, Dias Prabu dengan setengah sayap-mentalnya, Syam dengan penjelajahan artistik yang tidak pernah membuatnya puas, Yoga yang baru menemukan pola-komposisi-baru yang tidak disadarinya, Suharmanto dengan “kegagahan realisme-nya”, hingga Gusmen dengan kecamuk tekstur dan titian abstrak geometrisnya. Semua hal itu seakan – akan membuat cerminan khas dari personal mereka masing – masing. Membebaskan.

Selanjutnya, diperhelatan ini mereka hanya ingin “asyik”. Bersukacita dalam indahnya perbedaan – perbedaan yang ada diantara mereka (termasuk karya seni). Tapi pada dimensi yang lain, saya hanya ingin menuliskan bahwasanya mencapai ini tidaklah mudah. “Asyik, happy, bahagia” sesungguhnya adalah kosakata yang menggambarkan bentuk “kebebasan dan keter-lepasan”. Sejatinya merupakan “ombak” yang perlahan – lahan memecah karang. Dan sebaliknya, ia adalah “lautan” yang diam – diam “menenggelamkan”.

 

Bayu W

Curator in House

 

[/vc_column_text][vc_images_carousel images=”26458,26457″ img_size=”5500″ speed=”3000″ autoplay=”yes” wrap=”yes” title=”Mini Seksi Today”][/vc_column][/vc_row]

Program Pameran Seni Rupa Mini Seksi
DEEP SKIN - SKIN DEEP
Spread The Art...